Translate

Keutamaan Menutup Aib Orang lain

Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq bintu Husein Al Atsariyyah
Saudariku Muslimah,
Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan dimata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seakan akan obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain . ” Si Fulanah begini dan begitu….”. ” Si “Alanah orang nya suka ini dan itu…”
Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, ” Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada tampak.”
Perbuatan seperti ini selain tidak pantas / tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.
Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata , ” aku mendapati orang orang yang tidak memiliki cacat / cela, lalu mereka membicarakan aib manusia, maka manusia pun menceritakan aib aib mereka. Aku dapati pula orang orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.” 1
Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua :
Petama : Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti itu tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang orang yang beriman. Alloh SubhanaHu wa Ta’ala berfirman :
” Sesungguhnya orang orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji 2 dikalangan beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (An Nur : 19)
Kedua : seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang terangan, tanpa malu malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya. 3
Saudariku Muslimah….
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam yang berbunyi : ” Siapa yang melepaskan dari seseorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Alloh akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat . Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Alloh akan menutup aibnya didunia dan kelak di akhirat. Dan Alloh senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya….(HR. Muslim no. 2699)
Bila Demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya ditengah manusia ia dikenal sebagai orang yang baik baik dan terhormat. Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.
Namun bila disana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek / aib / cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru disebuah sekolah maka disampaikan kepada mudirnya (kepala sekolah). Demikian seterusnya. 4
Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada didalam rumahnya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Aslami radhiyallohu ‘anhu dari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam :
” Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk kedalam hatinya 5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari cari / mengintai aurot 6 mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot kaum muslimin, Alloh akan mencari cari aurotnya. Dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya didalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh dalam Shahih Abi Dawud : ” Hasan shahih.”)
Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, ” suatu hari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :
” Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama muslim, Alloh akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam Ash Shahibul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725. I/581)
Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anHu memandang Ka’bah, ia berkata :
” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Alloh darimu. 7
Karena itu saudariku…. Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutupi. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akherat. Siapa yang Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tutup celanya didunianya, dihari akhir nanti Alloh SubhanaHu wa Ta’ala pun akan menutup celanya, sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
” Tidaklah Alloh menutup aib seseorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Alloh juga akan menutup aibnya. ” 8 (HR. Muslim no. 6537)
Wallohu ta’ala a’lam bish showab
***
1. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291)
2. Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.
3. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu daqiqil Ied (hal 120), Qowa’id wa Fawa’id minal Arba’in An Nawawiyyah (hal 312)
4. Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin (hal 390 – 391)
5. Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap didalam hatinya.
6. Yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib / cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia (tuhfatul Ahwadzi) 7. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2032
8. Al Qodhi ‘Iyadh rahimahulloh berkata : ” tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al Qodhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. 16/360) Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdulloh bin ‘Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata.”
Aku pernah mendengar Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ” Sesungguhnya (dihari penghisaban nanti) Alloh mendekatkan seorang mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang orang yang hadir di mahsyar), Alloh berfirman : ” Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan ? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan ? Si mukmin menjawab : “Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu dosa dosa yang pernah hamba lakukan).” Hingga ketika si mukmin itu telah mengakui dosa dosanya dan ia memandang dirinya binasa karena dosa dosa tersebut, Alloh memberi kabar gembira padanya: ” Ketika didunia Aku menutupi dosa dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa dosamu itu. ” Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan kebaikannya…” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Dari : Majalah Asy Syariah Vol III / No. 30/1428 H / 2007
Wassalamu’alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu