Translate

Keteguhan Imam Ahmad

Beliau adalah orang paling alim di Irak pada masanya. Meski sudah menjadi Imam bagi umat islam tapi tidak menghentikan kebiasaan beliau yang sering mendatangi para ulama untuk menanyakan hadits atau masalah masalah fikih yang sangat kompleks. Pernah seseorang bertanya kepadanya mengapa ia masih saja mendatangi ulama ulama yang lain padahal ia telah menempati kedudukan yang tinggi dalam bidang pemahaman tentang agama. Dengan tawadhu ia menjawab bahwa ia akan senatiasa bersama tinta  untuk menemaninya dalam menulis pelajaran hingga masuk ke liang lahat. Itulah sosok Imam Ahmad rahimahullah. Beliau lahir dan besar di kota Baghdad. Lahir pada tahun 164 hijriyah dari rahim seorang wanita yang sangat mencintai Al Qur’an.
Masa kecil dilalui oleh Imam Ahmad dalam keadaan miskin dan hidup penuh kekurangan dalam hal materi. Tapi berkat didikan sang ibu yang sangat mencintai Al Qur’an maka jadilah Imam Ahmad seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, mencintai kebaikan dan mencintai kebenaran. Meski hidup tidak bergelimang dinar dan dirham tapi tidak mengurungkan niatnya untuk selalu mendatangi para ulama. Bekal perjalanan untuk menuntut ilmu tidaklah sedikit tapi Imam Ahmad pandai mengatur keuangan sehingga bekal yang sedikit bisa dipakai untuk perjalanan yang jauh dan juga melelahkan. Hidup sederhana, sifat wara’ dan qona’ah telah menjadi perhiasaan kehidupan sehari hari Sang Imam.
Beliau menuntut ilmu dari banyak guru yang terkenal dan ahli di bidangnya. Misalnya dari kalangan ahli hadits adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, Sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud ath Thayalisi. Dari kalangan ahli fiqh adalah Waki’ bin Jarah, Muhammad bin Idris asy Syafi’i dan Abu Yusuf. Dalam ilmu hadits, beliau mampu menghafal sejuta hadits bersama sanad dan hal ikhwal perawinya.
Meskipun Imam Ahmad seorang yang kekurangan, namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan tersebut, beliau senantiasa berusaha membantu dan menolong mereka yang kesusahan. Beliau tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Sungguh kebersihan hatinya mampu terpancar dari sikap dan tutur katanya Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur’an atau menghabiskan seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid’ah dan pikiran-pikiran yang sesat. Demikian sibuknya Imam Ahmad dalam bergelut dengan ilmu, dakwah dan tarbiyah hingga baru bisa menikah pada usia 40 tahun. Sungguh beliau telah mendermakan waktu yang tidak sedikit demi berkhidmat kepada umat.
Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Kitab hadits inisering dinukil oleh para ulama setelahnya atau pengarang buku saat ini. Begitu popular karya monumentalini sehingga layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits.
Dimasa hidup Imam Ahmad telah berkembang paham akidah Muktazilah dan berbagai paham filsafat yang menyimpang. Ujian dan fitnah ini telah merongrong akidah umat islam dan bahayanya sangat besar bagi keberlangsungan akidah yang murni dan lurus. Kaum Muktazilah melontarkan paham yang sesat bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Paham ini berkembang meluas hingga berhasil menembus dinding istana. Dan Khalifah Al Makmun berhasil diyakinkan oleh kaum Muktazilah tentang paham mereka. Mengahadapi tantangan besar ini Imam Ahmad maju kehadapan Khalifah dan berkata dengan tegas bahwa Al Qur’an itu bukan makhluk. Akibat pertentangan sengit ini menjadikan Imam Ahmad dijebloskan kepenjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.
Imam Ahmad lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk. Beliau wafat pada 12 Rabi’ul Awwal 241 H (855). Pada hari itu tidak kurang dari 130.000 Muslimin yang hendak menshalatkannya dan 10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam. Menurut sejarah belum pernah terjadi jenazah dishalatkan orang sebanyak itu kecuali Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat atas keduanya. Amin