Translate

Abdurrahman bin Auf `sahabat Bertangan emas`

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.

Seperti kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.

Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.

Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"

Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.

"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.

"Emas seberat biji kurma," jawabnya.

Rasulullah bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.

Pada saat Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratusuqiyah
emas.

Mengetahui hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."

Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?"

"Ya," jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan."

"Berapa?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."

Pasukan Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad SAW.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.

Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"

"Abdurrahman bin Auf," jawab si petugas.

Aisyah berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu." Amin.

penghuni surga terendah


Slumber : http://thalibmakbar.wordpress.com/2010/09/14/ini-pahala-terendah-di-surga-yang-paling-tinggi-bagaimana/
Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalah shahihnya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« آخِرُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ رَجُلٌ فَهُوَ يَمْشِى مَرَّةً وَيَكْبُو مَرَّةً وَتَسْفَعُهُ النَّارُ مَرَّةً فَإِذَا مَا جَاوَزَهَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا فَقَالَ تَبَارَكَ الَّذِى نَجَّانِى مِنْكِ لَقَدْ أَعْطَانِىَ اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ. فَتُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَدْنِنِى مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا. فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لَعَلِّى إِنْ أَعْطَيْتُكَهَا سَأَلْتَنِى غَيْرَهَا. فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ. وَيُعَاهِدُهُ أَنْ لاَ يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ هِىَ أَحْسَنُ مِنَ الأُولَى فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَدْنِنِى مِنْ هَذِهِ لأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا وَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. فَيَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ أَلَمْ تُعَاهِدْنِى أَنْ لاَ تَسْأَلَنِى غَيْرَهَا فَيَقُولُ لَعَلِّى إِنْ أَدْنَيْتُكَ مِنْهَا تَسْأَلُنِى غَيْرَهَا . فَيُعَاهِدُهُ أَنْ لاَ يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا. ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ هِىَ أَحْسَنُ مِنَ الأُولَيَيْنِ. فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَدْنِنِى مِنْ هَذِهِ لأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. فَيَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ أَلَمْ تُعَاهِدْنِى أَنْ لاَ تَسْأَلَنِى غَيْرَهَا قَالَ بَلَى يَا رَبِّ هَذِهِ لاَ أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا. وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لأَنَّهُ يَرَى مَا لاَ صَبْرَ لَهُ عَلَيْهَا فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْهَا فَيَسْمَعُ أَصْوَاتَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَدْخِلْنِيهَا

فَيَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ مَا يَصْرِينِى مِنْكَ أَيُرْضِيكَ أَنْ أُعْطِيَكَ الدُّنْيَا وَمِثْلَهَا مَعَهَا قَالَ يَا رَبِّ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّى وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ». فَضَحِكَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَقَالَ أَلاَ تَسْأَلُونِّى مِمَّ أَضْحَكُ فَقَالُوا مِمَّ تَضْحَكُ قَالَ هَكَذَا ضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالُوا مِمَّ تَضْحَكُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مِنْ ضِحْكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ قَالَ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّى وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ فَيَقُولُ إِنِّى لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ وَلَكِنِّى عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ ». رواه مسلم

“Orang yang terakhir masuk surga adalah orang yang dia sesekali berjalan dan sesekali tersungkur dan sesekali api melahatnya. Maka ketika ia telah melewatinya dia menoleh kepada neraka, lalu dia berkata: “Maha suci dzat yang menyelamatkan aku darimu, sungguh Allah telah memberikan padaku sesuatu yang tidak Dia berikan pada seorangpun dari orang terdahulu atau orang belakangan.” Lalu ditampakkan baginya sebuah pohon maka dia berkata: “Wahai Rabbku, dekatkanlah aku kepada pohon itu, maka aku akan bernaung dengan naungannya dan aku akan minum dari airnya.” Maka Allah ‘azza wa jalla berkata: “Wahai anak Adam, mungkin jika Aku mengabulkannya bagimu engkau akan meminta selainnya.” Maka dia berkata: “Tidak wahai Rabbku.” Maka Allah menjanjinya untuk tidak meminta kepada-Nya selainnya, dan Rabbnya memaafkannya karena ia melihat perkara yang tiada kesabaran atasnya. Maka Allah mendekatkannya pada pohon itu, lalu dia bernaung dengan naungannya dan dia minum dari airnya. Kemudian ditampakkan baginya sebuah pohon yang mana lebih baik dari yang pertama, maka ia berkata: “Wahai Rabbku, dekatkanlah aku padanya, agar aku bisa minum dari airnya dan aku akan bernaung dengan naungannya, aku tidak akan meminta kepada-Mu selainnya.” Maka Allah berkata: “Wahai anak Adam, bukankah kau telah berjanji pada-Ku untuk tidak meminta pada-Ku selainnya. Mungkin jika Aku mendekatkanmu padanya kau akan meminta yang lainnya.” Maka ia berjanji kepada Allah untuk tidak meminta kepada-Nya selainnya, dan Rabbnya memaafkannya karena ia melihat perkara yang tiada kesabaran atasnya. Maka Allah mendekatkannya pada pohon itu, lalu dia bernaung dengan naungannya dan dia minum dari airnya. Kemudian ditampakkan baginya sebuah pohon di sisi pintu surga yang mana lebih baik dari kedua pohon sebelumnya. Maka ia berkata: “Wahai Rabbku, dekatkanlah aku padanya agar aku bisa bernaung dengan naungannya dan minum dari airnya, aku tidak akan meminta kepada-Mu selainnya.” Maka Allah berkata; “Wahai anak Adam, bukankah kau telah berjanji pada-Ku untuk tidak meminta pada-Ku selainnya.” Dia berkata: “Benar wahai Rabbku, ini saja, aku tidak akan meminta pada-Mu selainnya.” Dan Rabbnya memaafkannya karena ia melihat perkara yang tidak bisa sabar atasnya.” Maka Allah mendekatkannya padanya, ketika dia telah didekatkan padanya, maka dia mendengar suara penduduk surga, maka dia berkata: “Wahai Rabbku, masukkanlah aku padanya.” Maka Allah berkata: “Wahai anak Adam, apa yang menjauhkan Aku darimu? Apakah engkau senang Aku beri engkau dunia dan yang sepertinya bersamanya?” Maka ia berkata: “Wahai Rabbku, apakah Engkau menghinaku sedangkan Engkau Rab semesta alam?”
Maka Ibnu Mas’ud tertawa lalu berkata: “Tidakkah kalian betanya padaku karena apa aku tertawa?” Maka mereka berkata: “Karena apa engkau tertawa?” Dia berkata: “Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. Lalu mereka berkata: “Karena apa engkau tertawa wahai Rasulullah?” Maka beliau berkata: “Karena tertawanya Rabb semesta alam ketika orang itu berkata: “Apakah Engkau menghinaku sedangkan Engkau Rabb semesta alam?” Maka Allah berkata: “Sesungguhnya Aku tidak menghinamu, akan tetapi Aku maha mampu akan apa yang Aku inginkan.”
Dan disebutkan dalam riwayat Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh Abdullah ‘Utsman Adz-Dzamary dalam ceramahnya di Masjid At-Tauhid di kota Dzamar, Yaman, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُنَادِي مُنَادٍ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَمْ تَرْضَوْا مِنْ رَبِّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَصَوَّرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ أَنْ يُوَالِيَ كُلُّ إِنْسَانٍ مَا كَانَ يَعْبُدُ فِي الدُّنْيَا وَيَتَوَلَّى ، أَلَيْسَ ذَلِكَ عَدْلٌ مِنْ رَبِّكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى ، قَالَ : فَيَنْطَلِقُ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ إِلَى مَا كَانَ يَتَوَلَّى فِي الدُّنْيَا وَيُمَثَّلُ لَهُمْ مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فِي الدُّنْيَا ، وَقَالَ : يُمَثَّلُ لِمَنْ كَانَ يَعْبُدُ عِيسَى شَيْطَانُ عِيسَى ، وَيُمَثَّلُ لِمَنْ كَانَ يَعْبُدُ عُزَيْرًا شَيْطَانُ عُزَيْرٍ ، حَتَّى يُمَثَّلَ لَهُمُ الشَّجَرُ وَالْعُودُ وَالْحَجَرُ ، وَيَبْقَى أَهْلُ الإِسْلاَمِ جُثُومًا فَيَقُولُ لَهُمْ : مَا لَكُمْ لاَ تَنْطَلِقُونَ كَمَا انْطَلَقَ النَّاسُ ؟ فَيَقُولُونَ : إِنَّ لَنَا رَبًّا مَا رَأَيْنَاهُ بَعْدُ ، قَالَ : فَيَقُولُ : فَبِمَ تَعْرِفُونَ رَبَّكُمْ إِنْ رَأَيْتُمُوهُ ؟ قَالُوا : بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ عَلاَمَةٌ إِنْ رَأَيْنَاهُ عَرَفْنَاهُ ، قَالَ : وَمَا هِيَ ؟ قَالُوا : السَّاقُ ، فَيُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ ، قَالَ : فَيَحْنِي كُلُّ مَنْ كَانَ لِظَهْرٍ طَبَّقَ سَاجِدًا وَيَبْقَى قَوْمٌ ظُهُورُهُمْ كَصَيَاصِي الْبَقَرِ يُرِيدُونَ السُّجُودَ فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ ، قَالَ : ثُمَّ يُؤْمَرُونَ فَيَرْفَعُونَ رُءُوسَهُمْ فَيُعْطَوْنَ نُورَهُمْ عَلَى قَدْرٍ أَعْمَالِهِمْ ، فَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورَهُ مِثْلَ الْجَبَلِ بَيْنَ يَدَيْهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورَهُ دُونَ ذَلِكَ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى نُورَهُ مِثْلَ النَّخْلَةِ بِيَمِينِهِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُعْطَى دُونَ ذَلِكَ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ ذَلِكَ يُعْطَى نُورَهُ عَلَى إِبْهَامِ قَدَمِهِ يُضِيءُ مَرَّةً وَيُطْفِئُ مَرَّةً فَإِذَا أَضَاءَ قَدَّمَ قَدَمَهُ ، وَإِذَا طُفِئَ قَامَ ، فَيَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ ، وَالصِّرَاطُ كَحَدِّ السَّيْفِ دَحْضٌ مَزِلَّةٌ ، قَالَ : فَيُقَالُ انْجُوا عَلَى قَدْرِ نُورِكُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَانْقِضَاضِ الْكَوْكَبِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالطَّرْفِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَالرِّيحِ ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَمُرُّ كَشَدِّ الرَّحْلِ وَيَرْمُلُ رَمَلاً فَيَمُرُّونَ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ ، حَتَّى يَمُرَّ الَّذِي نُورُهُ عَلَى إِبْهَامِ قَدَمِهِ يَجُرُّ يَدًا وَيُعَلِّقُ يَدًا وَيَجُرُّ رِجْلاً وَيُعَلِّقُ رِجْلاً فَتُصِيبُ جَوَانِبَهُ النَّارُ ، قَالَ : فَيَخْلُصُونَ فَإِذَا خَلَصُوا ، قَالُوا : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنْكَ بَعْدَ إِذْ رَأَيْنَاكَ ، فَقَدْ أَعْطَانَا اللَّهُ مَا لَمْ يُعْطِ أَحَدًا ، فَيَنْطَلِقُونَ إِلَى ضَحْضَاحٍ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ وَهُوَ مُصْفَقٌ مَنْزِلاً فِي أَدْنَى الْجَنَّةِ ، فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا أَعْطِنَا ذَلِكَ الْمَنْزِلَ ، قَالَ : فَيَقُولُ لَهُمْ :

تَسْأَلُونِي الْجَنَّةَ وَهُوَ مُصْفَقٌ وَقَدْ أَنْجَيْتُكُمْ مِنَ النَّارِ ، هَذَا الْبَابُ لاَ يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا ، فَيَقُولُ لَهُمْ : لَعَلَّكُمْ إِنْ أُعْطِيتُمُوهُ أَنْ تَسْأَلُونِي غَيْرَهُ ، قَالَ : فَيَقُولُ : لاَ وَعِزَّتِكَ لاَ نَسْأَلُكَ غَيْرَهُ وَأَيُّ مَنْزِلٍ يَكُونُ أَحْسَنَ مِنْهُ ، قَالَ : فَيُعْطَوْهُ فَيُرْفَعُ لَهُمْ أَمَامَ ذَلِكَ مَنْزِلٌ آخَرُ كَأَنَّ الَّذِي أُعْطَوْهُ قَبْلَ ذَلِكَ حُلْمٌ عِنْدَ الَّذِي رَأَوْهُ ، قَالَ : فَيَقُولُ لَهُمْ : لَعَلَّكُمْ إِنْ أُعْطِيتُمُوهُ أَنْ تَسْأَلُونِي غَيْرَهُ ، فَيَقُولُونَ : لاَ وَعِزَّتِكَ لاَ نَسْأَلُكَ غَيْرَهُ وَأَيُّ مَنْزِلٍ أَحْسَنُ مِنْهُ ؟ فَيُعْطَوْهُ ثُمَّ يَسْكُتُونَ ، قَالَ : فَيُقَالُ لَهُمْ ، مَا لَكُمْ لاَ تَسْأَلُونِي ؟ فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا قَدْ سَأَلْنَا حَتَّى اسْتَحْيَيْنَا ، قَالَ : فَيَقُولُ لَهُمْ : أَلَمْ تَرْضَوْا إِنْ أَعْطَيْتُكُمْ مِثْلَ الدُّنْيَا مُنْذُ يَوْمِ خَلَقْتُهَا إِلَى يَوْمِ أَفْنَيْتُهَا وَعَشَرَةَ أَضْعَافِهَا.

قَالَ : قَالَ مَسْرُوقٌ : فَمَا بَلَغَ عَبْدُ اللهِ هَذَا الْمَكَانَ مِنَ الْحَدِيثِ إِلاَّ ضَحِكَ ، قَالَ : فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَقَدْ حُدِّثْتُ بِهَذَا الْحَدِيثِ مِرَارًا فَمَا بَلَغْتُ هَذَا الْمَكَانَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ إِلاَّ ضَحِكْتُ ، قَالَ : فَقَالَ عَبْدُ اللهِ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ بِهَذَا الْحَدِيثِ مِرَارًا فَمَا بَلَغَ هَذَا الْمَكَانَ مِنْ هَذَا الْحَدِيثِ إِلاَّ ضَحِكَ حَتَّى تَبْدُوَ لَهَوَاتُهُ وَيَبْدُو آخِرُ ضِرْسٍ مِنْ أَضْرَاسِهِ لِقَوْلِ الإِنْسَانِ : أَتَهْزَأُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ ؟ قَالَ : فَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لاَ وَلَكِنِّي عَلَى ذَلِكَ قَادِرٌ فَسَلُونِي ، قَالَ : فَيَقُولُونَ : رَبَّنَا أَلْحِقْنَا بِالنَّاسِ فَيَقُولُ لَهُمُ : الْحَقُوا بِالنَّاسِ ، قَالَ : فَيَنْطَلِقُونَ يَرْمُلُونَ فِي الْجَنَّةِ حَتَّى يَبْدُوَ لِلرَّجُلِ مِنْهُمْ قَصْرٌ مِنْ دُرَّةٍ مُجَوَّفَةٍ ، قَالَ : فَيَخِرُّ سَاجِدًا ، قَالَ : فَيُقَالُ لَهُ : ارْفَعْ رَأْسَكَ فَيَرْفَعُ رَأْسَهُ ، فَيُقَالُ : إِنَّمَا هَذَا مَنْزِلٌ مِنْ مَنَازِلِكَ ، قَالَ : فَيَنْطَلِقُ فَيَسْتَقْبِلُهُ رَجُلٌ فَيَقُولُ : أَنْتَ مَلَكٌ ؟ فَيُقَالُ : إِنَّمَا ذَلِكَ قَهْرَمَانٌ مِنْ قَهَارِمَتِكَ عَبْدٌ مِنْ عَبِيدِكَ ، قَالَ : فَيَأْتِيهِ فَيَقُولُ : إِنَّمَا أَنَا قَهْرَمَانٌ مِنْ قَهَارِمَتِكَ عَلَى هَذَا الْقَصْرِ تَحْتَ يَدَيْ أَلْفِ قَهْرَمَانٍ كُلُّهُمْ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ ، قَالَ : فَيَنْطَلِقُ بِهِ عِنْدَ ذَلِكَ حَتَّى يُفْتَحَ الْقَصْرُ وَهُوَ دُرَّةٌ مُجَوَّفَةٌ سَقَايِفُهَا وَأَبْوَابُهَا وَأَغْلاَقُهَا وَمَفَاتِيحُهَا مِنْهَا ، فَيُفْتَحُ لَهُ الْقَصْرُ فَيَسْتَقْبِلُهُ جَوْهَرَةٌ خَضْرَاءُ مُبَطَّنَةٌ بِحَمْرَاءَ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِيهَا سِتُّونَ بَابًا كُلُّ بَابٍ يُفْضِي إِلَى جَوْهَرَةٍ وَاحِدَةٍ عَلَى غَيْرِ لَوْنِ صَاحِبَتُهَا

فِي كُلِّ جَوْهَرَةٍ سُرَرٌ وَأَزْوَاجٌ وَتَصَارِيفُ أَوْ قَالَ : وَوَصَائِفُ قَالَ : فَيَدْخُلُ فَإِذَا هُوَ بَحَوْرَاءَ عَيْنَاءَ عَلَيْهَا سَبْعُونَ حُلَّةٌ يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ حُلَلِهَا كَبِدُهَا مِرْآتُهُ وَكَبِدُهُ مِرْآتُهَا ، إِذَا أَعْرَضَ عَنْهَا إِعْرَاضَةً ازْدَادَتْ فِي عَيْنِهِ سَبْعِينَ ضِعْفًا عَمَّا كَانَ قَبْلَ ذَلِكَ ، فَيَقُولُ : لَقَدِ ازْدَدْتِ فِي عَيْنِي سَبْعِينَ ضَعْفًا ، وَتَقُولُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ ، قَالَ : فَيُشْرِفُ بِبَصَرِهِ عَلَى مِلْكِهِ مَسِيرَةَ مِائَةِ عَامٍ قَالَ : فَقَالَ عُمَرُ عِنْدَ ذَلِكَ : يَا كَعْبُ أَلاَ تَسْمَعُ إِلَى مَا يُحَدِّثُنَا ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ عَنْ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَالَهُ فَكَيْفَ بِأَعْلاَهُمْ ؟ قَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ فَوْقَ الْعَرْشِ وَالْمَاءِ فَخَلَقَ لِنَفْسِهِ دَارًا بِيَدِهِ فَزَيَّنَهَا بِمَا شَاءَ وَجَعَلَ فِيهَا مِنَ الثَّمَرَاتِ وَالشَّرَابِ ، ثُمَّ أَطْبَقَهَا فَلَمْ يَرَهَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِهِ مُنْذُ يَوْمِ خَلَقَهَا لاَ جِبْرِيلُ وَلاَ غَيْرُهُ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ ، ثُمَّ قَرَأَ كَعْبٌ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ وَخَلَقَ دُونَ ذَلِكَ جَنَّتَيْنِ فَزَيَّنَهُمَا بِمَا شَاءَ وَجَعَلَ فِيهِمَا مَا ذَكَرَ مِنَ الْحَرِيرِ وَالسُّنْدُسِ وَالإِسْتَبْرَقِ ، وَأَرَاهُمَا مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ ، فَمَنْ كَانَ كِتَابُهُ فِي عِلِّيِّينَ يُرَى فِي تِلْكَ الدَّارِ ، فَإِذَا رَكِبَ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ عِلِّيِّينَ فِي مِلْكِهِ لَمْ يَنْزِلْ خَيْمَةً مِنْ خِيَامِ الْجَنَّةِ إِلاَّ دَخَلَهَا مِنْ ضَوْءِ وَجْهِهِ ، حَتَّى إِنَّهُمْ يَسْتَنْشِقُونَ رِيحَهُ وَيَقُولُونَ : وَاهًا لِهَذِهِ الرِّيحِ الطَّيِّبَةِ ، وَيَقُولُونَ : لَقَدْ أَشْرَفَ عَلَيْنَا الْيَوْمَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ عِلِّيِّينَ ، فَقَالَ عُمَرُ : وَيْحَكَ يَا كَعْبُ إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ قَدِ اسْتَرْسَلَتْ فَاقْبِضْهَا ، فَقَالَ كَعْبٌ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ لِجَهَنَّمَ زَفْرَةً مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلاَ نَبِيٍّ إِلاَّ يَخِرُّ لِرُكْبَتَيْهِ حَتَّى يَقُولَ إِبْرَاهِيمُ خَلِيلُ اللهِ : رَبِّ نَفْسِي نَفْسِي ، وَحَتَّى لَوْ كَانَ لَكَ عَمَلُ سَبْعِينَ نَبِيًّا إِلَى عَمَلِكَ لَظَنَنْتَ أَنْ لاَ تَنْجُوَ مِنْهَا.

“Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat maka berserulah seorang penyeru: “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian merelakan Rabb kalian yang telah menciptakan kalian, yang membentuk kalian dan yang telah memberi rizqi pada kalian untuk menyerahkan setiap orang kepada apa yang dia sembah di dunia dan dia berpaling kepadanya. Bukankah itu adalah keadilan dari Rabb kalian?” Mereka berkata: “Tentu”. Dia berkata: “Maka beranjaklah setiap orang dari kalian kepada apa yang ia berpaling padanya di dunia.” Dan diperlihatkan pada mereka apa yang mereka sembah di dunia. Dia berkata: “Diperlihatkan bagi yang menyembah ‘Isa syaithan yang menjelma sebagai ‘Isa, diperlihatkan bagi yang menyembah ‘Uzair syaithan yang menjelma sebagai ‘Uzair, sampai diperlihatkan bagi mereka pohon, kayu dan batu.” Dan pemeluk islam tetap dalam keadaan berjongkok, maka dia berkata pada mereka: “Kenapa kalian tidak beranjak sebagaimana manusia beranjak?” Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami memeliki Rabb (sesembahan) yang kami belum melihatnya.” Maka ia berkata: “Lalu dengan apa kalian mengetahui Rabb kalian jika kalian melihatnya?” Mereka berkata: “Antara kami dengan Dia ada suatu tanda, jika kami melihat-Nya kami akan mengetahui-Nya.” Dia berkata: “Apa tanda itu?” Mereka berkata: “Betis.” Maka disingkaplah suatu betis. Maka tersungkurlah setiap orang di permukaan melakukan sujud dan tersisalah suatu kaum yang punggung mereka seperti tembok kandang sapi, mereka ingin sujud namun mereka tidak mampu. Kemudian mereka diperintah lalu mereka mengangkat kepala mereka lalu mereka diberi cahaya mereka sesuai dengan kadar amalan mereka. Diantara mereka ada yang diberi cahayanya seperti gunung di depannya, diantara mereka ada yang diberi cahayanya lebih sedikit dari itu, diantara mereka ada yang diberi cahayanya seperti kurma di tangan kanannya, dan diantara mereka ada yang diberi dibawah itu sampai yang terakhir diberi cahayanya pada jempol kakinya, sesekali bersinar dan sesekali padam, jika bersianar dia memajukan kakinya dan jika padam dia diam berdiri. Lalu mereka melewati shirath, dan shirath itu setajam pedang begitu licin dan menggelincirkan. Maka dikatakan: “Selamatkan diri kalian sesuai dengan kadar cahaya kalian.” Maka diantara mereka ada yang melewati shirath seperti jatuhnya bintang, diantara mereka ada yang melewatinya seperti kedipan mata, diantara mereka ada melewatinya seperti angina, diantara mereka ada yang melewatinya seperti orang yang jalan cepat dan lari-lari kecil maka mereka lewat sesuai dengan amalan mereka. Sampai lewatlah orang yang cahayanya pada jempol kakinya, dia menarik tangan dan menggantungkan tangan, menarik kaki dan menggantungkan kaki yang lain, maka terkenalah beberapa sisinya oleh api. Maka terbebaslah mereka, jika telah terbebas mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami darimu setelah kami melihatmu. Sungguh Allah telah memberi kami sesuatu yang tidak Dia berikan pada seorangpun.” Maka mereka beranjak menuju air dangkal di sisi pintu surga, dan ia menghadap sebuah rumah di surga yang paling rendah, lalu mereka berkata: “Wahai Rabb kami, berilah kami rumah itu.” Maka Allah berkata pada mereka: “Kalian memintaku surga dalan keadaan dia menghadap, dan Aku telah menyelamatkan kalian dari neraka, pintu ini tidaklah mereka mendegar deritannya.” Maka Allah berkata: “Mungkin jika aku berikan ia pada kalian, kalian akan meminta-Ku selainnya.” Mereka berkata: “Tidak demi kemulian-Mu, kami tidak akan meminta kepada-Mu selainnya bahkan rumah manapun yang lebih baik darinya.” Maka Allah memberikannya lalu ditampakkan pada mereka di depannya rumah yang lain, seakan-akan yang diberikan sebelum itu adalah mimpi ketika mereka melihatnya. Maka Allah berkata: “Mungkin jika kalian Aku beri itu kalian akan meminta-Ku selainnya.” Mereka berkata: “Tidak demi kemuliaan-Mu, kami tidak akan meminta kepada-Mu selainnya bahkan rumah manapun yang lebih baik darinya.” Maka Allah memberikannya pada mereka, kemudian mereka diam. Kemudian dikatakan pada mereka: “Kenapa kalian tidak meminta pada-Ku?” Mereka berkata: “Wahai Rabb kami, kami telah meminta pada-Mu sampai kami merasa malu.” Maka dikatakan pada mereka: “Tidakkah kalian ridha jika Aku beri kalian seperti dunia dari semenjak Aku menciptakannya sampai hari Aku melenyapkannya, sekaligus sepuluh lipat sepertinya.”
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits ini berkali-kali, tidaklah beliau sampai pada kisah ini dalam hadits kecuali ia tertawa sampai tampak anak tekaknya dan nampak gigi serinya yang terakhir dikarenakan ucapan orang tersebut: “Apakah engkau menghinaku sedangkan Engkau adalah Raja?” Allah berkata: “Tidak, akan tetapi maha mampu akan hal itu, maka mintalah kalian pada-Ku.” Maka mereka berkata: “Wahai Rabb, ikutkan kami dengan manusia.” Allah berkata pada mereka: “Ikutlah kalian pada manusia.” Maka mereka beranjak dan berlari kecil dalam surga sampai nampak bagi seorang dari mereka istana dari permata yang berongga. Maka mereka tersungkur sujud. Lalu dikatakan pada mereka: “Angkatlah kepalamu!” Maka dia mengangkat kepalanya. Maka dikatakan: “Sesungghunya ini adalah rumah dari rumah-rumahmu.” Maka ia beranjak maka seseorang menyambutnya maka ia berkata: “Apakah engkau malaikat?” Maka dikatakan: “Sesungguhnya aku adalah salah satu kepala rumah tanggamu terhadap istana ini, ada seribu kepala rumah tangga dibawah pimpinanku, semuanya bertugas seperti tugasku.” Maka dia beranjak bersamanya di saat itu sampai dibukakan istana yang mana ia adalah permata berongga, atapnya, pintunya, gemboknya dan kuncinya dari permata itu. Lalu dibukakan baginya istana itu, maka dia disambut oleh permata hijau yang dilapisi warna merah sebesar tujuh puluh hasta, padanya ada enam puluh pintu, setipa pintu mengantarkan pada sebuah permata yang tidak satu warna dengan pemiliknya. Pada setiap permata ada dipan-dipan, istri-istri dan penggiliran atau dukatakan dan sifat-sifat. Maka dia masuk, ternyata ia adalah wanita surga yang lebar matanya, dia memiliki tujuh puluh pakaian, terlihat sungsum betisnya dari balik pakaiannya, hati wanita surga itu adalah cermin bagi orang ini dan hati orang ini cermin bagi wanita surga tersebut. Jika orang ini berpaling darinya satu palingan bertambah pada dua matanya tujuh puluh lipat apa yang terjadi sebelumnya. Maka dia berkata: “Sungguh engkau telah bertambah pada mataku tujuh puluh kali lipat.” Maka wanita itu berkata seperti yang dia katakan. Maka dia mengamati kerajaannya dengan pandangannya sepanjang perjalanan seratus tahun. Maka ‘Umar berkata: “Wahai Ka’ab, tidakkah engkau mendengar apa yang disampaikan Ibnu Ummi ‘Abd kepada kita tentang penduduk surga yang paling rendah apa yang tersedia untuknya? Lalu bagaimana dengan yang paling tinggi derajatnya?” Ka’ab berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga. Sesungguhnya Allah berada di atas ‘Arsy dan air, lalu Dia menciptakan untuk diri-Nya sebuah rumah dengan tangan-Nya, lalu dia menghiasinya dengan apa yang Dia kehendaki dan Dia menjadikan padanya ada berbagai buah dan berbagai minuman, kemudian Allah menutupinya belum ada seorangpun yang melihatnya dari makhluk-Nya semenjak hari diciptakannya, tidak Jibril, tidak pula selainnya dari malaikat.” Kemudian Ka’ab membaca: “Maka tidaklah suatu jiwa mengetahui apa yang disembunyikan (dipersiapkan) bagi mereka berupa kenikmatan yang menyejukkan mata.” Dan menciptakan selain dari itu dua surga lalu Dia menghiasinya dengan apa yang Dia kehendaki, dan Dia menjadikan pada keduanya apa yang telah dia sebutkan berupa sutra, dan Dia perlihatkan dua surga itu kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhluknya dari kalangan malaikat. Siapa yang kitabnya berada di ‘Illiyin, ditampakkan dalam rumah itu. Jika seorang penghuni ‘Illiyin naik dalam kerajaannya maka dia tidaklah turun pada suatu kemah dari kemah-kemah surga kecuali ia memasukinya dari cahaya wajahnya, sampai-sampai mereka menghirup baunya dan berkata: “Hebatnya bau yang wangi ini.” Dan mereka berkata: “Telah naik kepada kita hari ini seseorang dari penghuni ‘Illiyin.” Maka ‘Umar berkata: “Celakanya engkau wahai Ka’ab, sesungguhnya kalbu-kalbu itu bisa melesat maka tehanlah dengan kuat.” Maka Ka’ab berkata: “Wahai Amirul Mukiminin sesungguhnya jahanam memiliki desahan, tidaklah ada malaikat yang didekatkan tidak pula nabi kecuali akan tersungkur pada kedua lututnya sampai berkata Ibrahim khalilullah: “Wahai Rabbku, diriku, diriku.” Dan sampaipun engkau memiliki amalan tujuh puluh orang nabi ditambahkan kepada amalanmu, niscaya engkau menyangka bahwa engkau tidak akan selamat darinya.”

Dari hadits di atas, jelas tergambar, yang membuat kita bertanya sebagaiamana ‘Umar bertanya: “Kalau ini adalah bagi yang paling rendah lalu bagaimana dengan yang paling tigggi?”
Apakah kita akan duduk sekedar mengharap yaang paling rendah, atau kita mesti buerusaha mengejar setinggi mungkin. Orang cerdas akan menjawab: “Aku harus mengejar derajat jannah setinggi mungkin.”
Maka orang ini harus ditanya: “Bagaimana engkau bisa mengejarnya, apakah engkau tahu caranya?”
Maka kita harus membantu menjawab: “Ada caranya, dan gampang. Salah satu yang bisa ditempuh adalah dengan menuntut ilmu.”
Telah lewat pada pembahasan sebelumnya bahwa menuntut ilmu akan mengantarkan dia untuk dengan mudah bisa menempuh jalan menuju jannah.
Waffaqaniyallahu lima yuhibbuhu wa yardhahu.

keindahan surga : belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga, belum pernah terlintas di hati manusia


Rosululloh SAW bersabda: “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga (dari ummatku) bercahaya baga

dikerjakan ringan berpahala besar


Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Seperti yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling baik itu?” Beliau menjawab “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).
Kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia bahagia setelah kematiannya serta rela dengan apa yang ia kerjakan.
Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa umur umatnya ini antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, mereka tidak seperti umur umat sebelumnya. Tetapi beliau telah menunjukkan mereka kepada perbuatan maupun ucapan yang dapat mengumpulkan pahala yang banyak dengan amalan yang sedikit lagi mudah, yang dapat menggantikan manusia dari tahun-tahun yang berlalu jika dibandingkan dengan umur sebelumnya. Inilah yang dinamakan dengan “al-A’maal al-Mudhoo’afah” (amalan-amalan yang berlipat ganda) yang tidak semua orang mengetahuinya.
Oleh karena itu, saya hendak menyebutkan sebagian besar dari amalan-amalan yang mudah lagi berlipat ganda tersebut pada tulisan yang singkat ini. Dengan harapan agar setiap orang di antara kita menambah umurnya (dengan amalan) yang produktif dalam kehidupan dunia ini. Agar tergolong dari orang-orang yang mengerti (untuk mengambil) selanya, (kata pepatah :) “Darimanakah bahu (hewan sembelihan itu) dimakan”. Maka mereka memilih dari amalan-amalan tersebut mana yang paling ringan (dikerjakan) oleh jiwa dan paling besar pahalanya. Orang seperti ini bagaikan orang yang mengumpulkan permata-permata yang berharga dari dasar laut sementara manusia yang lain (hanya) mendapatkan ombaknya saja.
Berikut ini akan kami sebutkan amalan-amalan maupun ucapan-ucapan secara berurutan dan singkat, dengan disertai dalil dari setiap ucapan atau amalan yaitu dalil-dalil dari Kitabulloh atau dari hadits-hadits yang shohih danhasan. Alloh-lah Yang Maha Pemberi taufiq untuk setiap kebaikan.
1.      Silaturahmi. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa ingin dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menyambung (tali) silaturahminya.” (HR. al-Bukhori dan Muslim).
2.      Berakhlak yang mulia, Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Silaturahmi, berbudi mulia, dan ramah pada tetangga (dapat) mendirikan kabilah dan menambah umur.” (HR. Ahmad dan al-Baihaqi).
3.      Memperbanyak sholat di “Haromain Syarifain”, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu (sholat) daripada yang lain kecuali Masjid Harom, dan sholat di Masjid Harom itu lebih baik dari seratus ribu (sholat) dari pada yang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
4.      Sholat berjamaah bersama imam, berdasarkan sabda Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Sholat berjamaah itu lebih baik dari pada sholat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. al-Bukhori dan Muslim).
Adapun perempuan sholat di rumah, dan hal itu lebih baik dari pada mereka sholat di masjid, walaupun di Masjid Nabawi. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Humaid radhiyallahu ‘anha–salah satu dari shohabiyat, “Aku tahu bahwa kamu senang sholat bersamaku, tapi sholatmu di rumahmu itu lebih baik bagimu daripada sholatmu di kamarmu. Dan sholatmu di kamarmu itu lebih baik bagimu dari pada sholatmu di tempat tinggalmu. Dan sholatmu di tempat tinggalmu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjid kaummu. Dan sholatmu di masjid kaummu lebih baik bagimu daripada sholatmu di masjidku (Masjid Nabawi).” (HR. Ahmad).
Lalu setelah ini beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat di penghujung rumahnya di tempat yang  gelap sampai beliau menemui ajalnya.
5.      Melaksanakan sholat nafilah (sunnah) di rumah, berdasarkan sabda beliau        “Keutamaan sholat seseorang laki-laki di rumahnya dengan sholat yang dilihat oleh orang banyak seperti halnya keutamaan sholat fardhu atas sholat sunnah.” (HR. al-Baihaqi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah).
Bukti yang menguatkan hal itu juga sabda Rosulloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shohih :
“Sebaik-baiknya sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat wajib.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
6.      Berhias dengan beberapa adab pada hari Jumat, yaitu yang terdapat pada sabdanya        :
“Barangsiapa mandi (janabat) pada hari Jumat, kemudian berangkat di awal waktu, mendapatkan khutbah pertama, berjalan kaki tidak naik kendaraan, mendekati imam, mendengarkan khutbah dan tidak berbicara, maka baginya setiap langkahnya adalah (bagaikan) amalan setahun dari pahala puasa dan sholat (tarawih)nya.” (HR. Ahlus Sunan).
Artinya “ghossala” adalah membasuh kepalanya, dan ada yang mengartikannya sebagai menggauli istrinya agar pandangannya tidak melihat yang haram pada hari itu. Sedang arti “bakkaro” adalah berangkat (ke masjid) di awal waktu. Dan ”Ibtakaro” adalah mendapatkan khutbah pertama.
7.      Sholat Dhuha, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bila masuk waktu pagi maka setiap jari-jari tangan kamu ada kewajiban shodaqoh, lalu setiap (bacaan) tasbih adalah shodaqoh, tahmid adalah shodaqoh, tahlil adalah shodaqoh, takbir adalah shodaqoh, amar ma’ruf adalah shodaqoh, nahi mungkar adalah shodaqoh, dan cukup dari itu semuanya dengan sholat dua rakaat waktu Dhuha.” (HR. Muslim).
Makna “sulamaa” adalah lipatan-lipatan organ tubuh seseorang yang berjumlah tiga ratus enam puluh lipatan / engsel.
Sebaik-baiknya waktu sholat Dhuha adalah ketika matahari sangat panas, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Sholat orang-orang yang bertobat itu ketika anak unta terasa sangat panas.” (HR. Muslim).
Maksudnya, tatkala anak unta itu berdiri dari tempatnya karena terik matahari yang sangat panas.
8.      Menghajikan orang lain atas biayanya setiap tahun, berdasarkan sabdanya  Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kerjakanlah haji dan umroh itu berturut-turut, karena sesungguhnya ia (dapat) menghilangkan kefakiran dan dosa seperti ubupan (alat peniup api) tukang besi yang menghilangkan karat besi, emas, dan perak.” (HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah).
Kadang-kadang seseorang tidak bisa melakukan haji setiap tahun. Oleh karena itu, hendaknya ia menghajikan orang lain atas biayanya- yang mampu badannya (dalam mengadakan perjalanan ke Baitulloh).
9.      Sholat setelah terbitnya matahari, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa sholat Subuh dengan berjamaan (di masjid), kemudian ia duduk sambil berdzikir kepada Alloh sampai terbitnya matahari, lalu sholat dua rakaat, maka baginya seperti pahala ibadah haji dan umroh yang sempurna, yang sempurna, dan yang sempurna.” (HR. At-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)
10.  Menghadiri halaqoh-halaqoh ilmu di masjid, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa berangkat ke masjid dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah haji dengan sempurna.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

11.  Melaksanakan umroh pada bulan Romadhon, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Umroh di bulan Romadhon sama dengan haji bersamaku.” (HR. Al-Bukhori).
12.  Melaksanakan sholat lima waktu di masjid, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk sholat fardhu, maka pahalanya seperti pahala haji.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah).
Dan yang lebih utama agar keluar dari rumahnya sudah dalam keadaan suci, bukan bersuci di masjid, kecuali dalam keadaan terpaksa dan darurat.
13.  Hendaknya berada di shof yang pertama, berdasarkan ucapan ’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan (kepada Alloh) bagi orang yang berada di shof yang pertama ”tiga kali”, dan shof yang kedua ”satu kali”. (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga, “Sesungguhnya Alloh dan malaikatNya membacakan sholawat kepada orang-orang yang berada di shof pertama.” (HR. Ahmad dengan sanad yang baik).
14.  Sholat di masjid Quba, berdasarkan sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian ia datang ke Masjid Quba, lalu sholat di dalamnya, maka baginya seperti pahala umroh.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
15.  Menjadi mu’adzin (tukang adzan), berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tukang adzan itu akan diampuni (dosanya) sepanjang suaranya (terdengar), dan dibenarkan oleh orang yang mendengarkannya, baik basah maupun kering, dan juga baginya pahala orang yang sholat bersamanya.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i).
Apabila anda tidak dapat menjadi tukang adzan, maka paling tidak anda harus mendapatkan pahala yang setimpal dengannya, yaitu amalan berikut.
16.  Agar mengucapkan seperti yang dikatakan oleh mu’adzin itu, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Katakanlah seperti yang dikatakan oleh mu’adzin. Bila kamu sudah selesai, maka mohonlah (kepada Alloh) niscaya Dia akan memberimu.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i).
Maksudnya, memohonlah setelah kamu selesai menjawab mu’adzin itu.
17.  Puasa Romadhon dan enam hari di bulan Syawwal setelahnya, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa pusa Romadhon kemudian diikuti enam hari di bulan Syawwal, maka (pahalanya) seperti puasa setahun.” (HR. Muslim).
18.  Puasa tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan 15, bulan Qomariyah), berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa puasa tiga hari dari setiap bulan, maka itulah (pahalanya seperti) puasa setahun.”
Kemudian Alloh menurunkan firmanNya sebagai pembenaran dalam KitabNya, “Barangsiapa membawa amal yang baik , maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’an : 160) “Satu hari sama dengan sepuluh hari.” (HR. at-Tirmidzi).
19.  Memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang-orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

20.  Sholat pada malam “Lailatul Qodr”, berdasarkan firman Alloh Ta’ala, ”Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qodr : 3).

Maksudnya, lebih baik daripada ibadah selama delapan puluh tiga tahun.
21.  Jihad, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kedudukan seseorang yang shof (jihad) fi sabilillahlebih baik daripada ibadah enam puluh tahun.” (HR. al-Hakim dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)
Hal ini merupakan keutamaan kedudukan / posisi dalam shof (jihad), lalu bagaimana dengan orang yang berjihad fi sabilillah dalam tempo berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
22.  Ar-Ribath (bersiap siaga di perbatasan musuh), berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa tetap bersiap-siaga  ( di perbatasan musuh) fi sabilillah dalam satu hari satu malam, maka baginya pahala seperti puasa satu bulan penuh dengan sholat malamnya. Dan barangsiapa meninggal dalam keadaan bersiap-siaga, maka baginya seperti itu juga pahalanya, dan ia diberikan rejeki, serta diamankan dari fitnah (siksa kubur).” (HR. Muslim).

23.  Amal sholih pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada hari-hari di mana amal sholih yang dilakukan dalam sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah) lebih dicintai oleh Alloh dari hari-hari lainnya.” Para sahabat berkata, “Wahai Rosululloh, tidakkah jihad di jalan Alloh lebih utama?” Beliau menjawab, “Tidak juga berjihad di jalan Alloh, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya, dan tidak kembali darinya dengan membawa sesuatu.” (HR. al-Bukhori).

24.  Mengulang-ulangi beberapa surat al-Qur’an, berdasarkan sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Surat ‘al-Ikhlash’ sama dengan sepertiga al-Qur’an dan Surat al-Falaq’ sama dengan seperempat al-Qur’an.” (HR. At-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)
25.  Berdzikir yang pahalanya berlipat ganda dan hal ini banyak (macamnya).
Di antaranya bahwa Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar dari (rumah istrinya), Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha di saat pagi hari ketika beliau sholat Subuh, sedang dia berada di tempat sholatnya. Kemudian Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang setelah sholat Dhuha sementara Ummul Mukminin sedang duduk (di tempat sholatnya), seraya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ”Masihkah engkau dalam keadaan yang tatkala aku tinggalkan?” Ummul Mukminin menjawab, ”Ya, benar.” Lalu beliau bersabda, ”Aku telah mengucapkan empat kalimat tiga kali setelahmu, seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan mulai hari ini, pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih berat, yaitu : ”Maha Suci Alloh, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh kerelaanNya, seberat timbangan ’Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (HR. Muslim).
Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang aku menggerakkan bibirku lalu beliau bertanya, ”Apa yang kamu ucapkan, wahai Abu Umamah?” Saya menjawab, ”Saya berdzikir dan menyebut Alloh.” Kemudian (beliau mengajariku) lalu bersabda, ”Maukah kamu aku tunjukkan kepada yng lebih banyak (pahalanya) dalam berdzikir kepada Alloh di siang hari dan malam hari? Maka ucapkanlah :
”Segala puji bagi Alloh sebanyak bilangan apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang (terdapat) dalam langit dan bumi. Segala puji bagiNya sebanyak apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sepenuh apa yang terhitung dalam kitabNya. Segala puji bagiNya sebanyak bilangan segala sesuatu. Dan segala puji bagiNya sepenuh segala sesuatu.”
Dan hendaklah kamu bertasbih kepada Alloh seperti itu.” Lalu beliau meneruskan sabdanya, ”Pelajarilah (doa-doa itu) dan ajarilah orang-orang setelahmu.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)
26.  Istighfar yang berlipat ganda, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Barangsiapa memintakan ampunan bagi orang-orang mukmin maupun mukminah, maka Alloh akan menulis baginya dari setiap orang mukmin maupun mukminah sebagai satu kebajikan.” (HR. Ath-Thobroni dan dishohihkan oleh al-Albani rahimahullah)

27.  Melaksanakan kepentingan manusia, berdasarkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya bila aku berjalan dengan saudaraku muslim untuk memenuhi suatu hajatnya lebih saya cintai daripada saya beri’tikaf di masjid selama satu bulan.” (HR. Ibnu Abi Dun-yaa  dan dihasankan oleh al-Albani rahimahullah)

28.  Perbuatan-perbuatan yang pahalanya senantiasa mengalir sampai setelah mati yaitu yang dijelaskan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada empat macam pahala yang selalu mengucur (pahalanya walaupun) setelah meninggal : [1] Seseorang yang selalu siap siaga (di perbatasan musuh) di jalan Alloh. [2] Seseorang yang mengajarkan suatu ilmu, maka pahalanya akan selalu mengucur selama ilmu itu diamalkan. [3] Seseorang yang memberi shodaqoh, maka pahalanya akan selalu mengucur (kepadanya) selama (shodaqoh tersebut) dipergunakan. [4] Seorang ayah yang meninggalkan anak yang sholih yang mendoakan kepadanya.” (HR. Ahmad dan ath-Thobroni).

29.  Mempergunakan waktu, hendaknya seorang muslim menggunakan waktunya dengan ketaatan (kepada Alloh). Seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, ibadah, mendengarkan kaset-kaset yagn bermanfaat, agar waktunya tidak sia-sia belaka dan agar ia tidak dilalaikan di mana saat itu tidak bermanfaat lagi kelalaian, seperti yang disabdakan oleh Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Dua nikmat yang (sering) dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu kesehatan dan kekosongan (waktu).” (HR. Al-Bukhori).
Alloh-lah Yang Maha Memberikan taufiq kepada kita semua agar umur kita dipanjangkan olehNya dalam kebaikan. Dan dapat mempergunakan kesempatan-kesempatan yang berlipat ganda (pahalanya), di mana kebanyakan orang melalaikannya.
 Ustadz Farid Muhammad al-Bathothy, Lc (Dosen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Sumber: Majalah Adz-Dzakhiirah Edisi 70 :: Vol. 9 No. 04 :: 1432H/2011M

Keutamaan membaca Dzikir 'Subhaanallaah al-'Adziimi Wabihamdihi'


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Menyebut nama Allah adalah nikmat yang besar dan karunia yang agung. Berdzikir kepada-Nya membuat hati tenang dan jiwa tentram. Ruh juga akan hidup dan sehat dengannya. Sehingga, dalam kehidupannya yang diwarnai suka & duka, peluang & tantangan, seorang hamba sangat butuh kepada dzikrullah.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam permisalan antara hati orang yang berdzikir dan tidak berdzikir, “Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya, dari hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu 'Anhu)
Dzikir mengundang cinta Allah dan keridhaan-Nya. Dzikir juga menjadi sarana penghapus kesalahan dan dosa. Selain itu, dzikir bisa menjadi sebab berlipatnya pahala dan memperberat timbangan kebaikan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ 
Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللَّهِ ، وبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
"Dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Al-Rahman (Allah): Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil 'Adzim." (HR. Muttafaq 'Alaih)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
"Siapa yang mengucapkan: Subhanallah wa Bihamdihi (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali, maka dihapuskan segala kesalahan (dosa)-Nya walaupun sebanyak buih dilaut." (Muttafaq 'alaih)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam menjelaskan tentang fadhilahnya, "Maka barangsiapa yang menyucikan Allah (bertasbih) dan memuji-Nya (tahmid) sebanyak 100 kali pada pagi dan petang hari, niscaya mereka akan memperoleh pahala yang sangat besar; berupa diampuninya seluruh dosa dan kesalahannya meskipun jumlahnya amat banyak seperti buih di lautan. Hal ini adalah merupakan keutamaan yang mulia dan pemberian yang melimpah."
Beliau melanjutkan, "Para ulama menyempitkan makna dari dosa-dosa yang akan diampuni dengan zikir ini, yaitu dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali taubat nasuha. Tetapi Imam al-Nawawi berkata: apabila seseorang tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka diharapkan zikir tersebut dapat meringankan dosa-dosa besar yang telah ia lakukan."
. . . Dzikir mengundang cinta Allah dan keridhaan-Nya. Dzikir juga menjadi sarana penghapus kesalahan dan dosa. . .
Keutamaan Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi
Di antara kalimat dzikir yang disyariatkan memiliki keutamaan khusus, ditanamkan satu pohon kurma di surga untuk pembacanya. Kalimat dzikir tersebut adalah: Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi.
Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ                 
"Siapa yang membaca Subhaanallaah al-'Adziim Wabihamdihi, maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga." (HR. Al-TirmiDzi; beliau berkata: hadits hasan shahih gharib. Dishahihkan juga oleh Ibnu Hibban dena al-Hakim dengan disepakati imam Al-Dzahabi)
Kalimat pendek dan ringan diucapkan lisan. Namun bisa menghasilkan sesuatu yang sangat istimewa di kehidupan akhirat kita. Dari satu kalimatnya ditanamkan satu pohon kurma di surga. Bagi perindu surga tidak boleh meremehkannya. Setiap kebaikan yang mampu dan berkesempatan mengamalkannya agar ia kerjakan, walaupun dalam bentuk kebaikan yang sangat kecil dan ringan. Karena terkadang, seseorang dirahmati dan dimasukkan surga karena sebab amal-amal ringannya. “Surga lebih dekat kepada salah seorang kalian daripada tali sandalnya,” bunyi hadits riwayat al-Bukhari. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

penyebab rajin shalat tapi masih bermaksiat


Kita tahu bahwa shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sayangnya, ada yang rajin shalat, namun di luar itu ia masih berjudi. Kami pun mendapatkan cerita seperti itu. Apakah shalatnya yang bermasalah? Coba kita kaji bersama dengan melihat perkataan ulama-ulama salaf di masa silam.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).
Ibnu Mas’ud pernah ditanya mengenai seseorang yang biasa memperlama shalatnya. Maka kata beliau,
إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا
Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud).
Al Hasan berkata,
مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا
Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan)
Abul ‘Aliyah pernah berkata,
إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ.
Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65).
Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Siapa yang merutinkan shalat dan mengerjakannya di waktunya, maka ia akan selamat dari kesesatan.” (Bahjatun Nazhirin, 2: 232).
Jika ada yang sampai berbuat kemungkaran, maka shalat pun bisa mencegahnya dari perbuatan tersebut.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia mengatakan,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِّي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنَّ فُلاَنًا يُصَلِّيْ بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرِقَ؟ فَقَالَ: “إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا يَقُوْلُ
Ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Ada seseorang yang biasa shalat di malam hari namun di pagi hari ia mencuri. Bagaimana seperti itu?” Beliau lantas berkata, “Shalat tersebut akan mencegah apa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad 2: 447, sanadnya shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Nah berarti shalat yang baik adalah shalat yang bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Inilah shalat yang mesti dibentuk. Jadi kalau ia rajin shalat, malah masih terus melakukan dosa besar, maka shalatnya lah yang mesti diperbaiki.Wallahu a’lam.
Disusun di Jayapura Papua, 27 Rajab 1435 H
Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

5 kebaikan menurut imam syafii


Nasehat Muhammad bin Idris Asy Syafi’i sangat patut kita renungkan agar kita dapat meraih banyak kebaikan.
Kata Imam Syafi’i rahimahullah,
الخير في خمسة: غنى النفس، وكف الاذى، وكسب الحلال، والتقوى، والثقة بالله
“Kebaikan itu ada dalam lima hal:
  1. Hati yang selalu merasa cukup (ghinan nafs)
  2. Menahan diri dari menyakiti orang lain
  3. Mencari rizki yang halal
  4. Bertakwa
  5. Begitu yakin pada janji Allah.”
Memang betul kata Imam Syafi’i. Pekerjaan yang halal tentu akan membawa pada kebaikan. Begitu pula keadaan hati yang selalu merasa cukup atau qona’ah, bertakwa dan begitu yakin pada janji Allah, yaitu tidak khawatir pada rizki misalnya, jelas akan membawa pada kebaikan. Begitu pula halnya ketika seseorang tidak menyakiti orang lain, maka yang lain pun tidak akan menyakitinya.
Semoga kita bisa memiliki hati semacam ini. Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 26 Rajab 1433 H