Translate

Permata Hati

Setiap musibah ternyata selalu memberikan hikmah tersendiri. Ledakan bom di hotel JW Marriot adalah salah satu contohnya. Banyak eksekutif yang merasa was-was untuk pergi makan siang, apalagi berperilaku ”macam-macam” pada jam makan siang. Tidak sedikit pula yang kembali menekuni agama.
Seorang eksekutif mengirimkan e-mail berjudul ”Betapa Dekatnya Kita dengan Maut.” Ia bercerita mengenai suaminya yang luput dari tragedi itu. Ia pun berpesan kepada teman-temannya untuk benar-benar menghargai waktu yang ada dan hidup rukun dengan orang-orang yang kita sayangi. ”Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup kita,” ujarnya.
Seorang sekretaris yang luput dari kejadian itu juga mengirimkan e-mail bernada serupa. Siang itu ia bersama 29 sekretaris dari berbagai perusahaan memenuhi undangan pihak hotel untuk makan siang di Kafe Syailendra. Namun, makan siang tersebut tertunda karena anggota rombongan masih ingin melihat beberapa area hotel. Di saat itulah bom meledak. Kafe Syailendra hancur. Pada saat-saat kritis itulah di tengah reruntuhan kaca, bau mesiu, lumuran darah, suara sirene dan histeris dari semua orang ia benar-benar merasakan kehadiran Tuhan.
Mengingat kematian memang merupakan cara paling efektif untuk menjadi sadar dan terbangun. Inilah satu-satunya hal yang paling pasti di dunia ini. Kematian juga tidak ada kaitannya dengan usia, kesehatan, dan jenis pekerjaan. Karena itu, siapapun Anda, Anda begitu dekat dengan kematian!
Sayang, kesadaran seperti ini seringkali hilang seiring dengan berjalannya waktu. Kita mulai melupakannya, tenggelam dalam rutinitas, dan kembali ”tertidur” sampai sebuah musibah lain datang kembali ”membangunkan” kita.
Persoalannya, kenapa kita sering berada dalam keadaan ”tertidur?” Kita sering tertidur karena kita tidak berusaha menyelami diri kita sendiri. Kita tidak terbiasa berkaca, melihat ke dalam diri, dan melakukan refleksi. Kita ”bangun” hanya karena terkejut, kemudian kita pun ”tertidur” kembali. Memang, selama Anda tidak dapat menyelami diri sendiri, rutinitas dan keseharian Anda akan segera menutup celah untuk meniti ke dalam diri. Dan, peristiwa-peristiwa yang mengagetkan tadi akan segera terlupakan.
Untuk melakukan perjalanan ke dalam, kita memang harus meluangkan waktu untuk merenung dan mengambil jarak dari kesibukan kita. Lihatlah diri Anda sendiri, dan tanyakan tiga pertanyaan penting: ”Siapakah aku?,” ”Mengapa aku ada di sini?,” dan ”Kemana aku akan pergi?” Dengan menjawabnya Anda akan menemukan makna hidup ini. Dan, begitu menemukannya, Anda akan merasa tenang dan lapang. Anda dapat melihat dunia dengan kacamata yang berbeda. Dan yang pasti, Anda kini sudah benar-benar hidup!
Manusia memang telah diciptakan dengan sempurna. Buktinya, semua perlengkapan yang kita perlukan untuk hidup bahagia sudah ada dalam diri kita sendiri. Bahkan, semua jawaban terhadap persoalan apapun sudah tersedia di sana.
Kekayaan batin yang kita miliki luar biasa banyaknya. Sayang, banyak orang yang tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk mengumpulkan benda, uang, jabatan. Mereka menyangka akan lebih bahagia bila memiliki lebih banyak harta. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Mereka selalu merasa kurang.
Bahkan, semakin menumpuk kekayaan, semakin mereka ingin lebih dan lebih lagi. Orang seperti ini sesungguhnya adalah orang yang miskin. Orang ”kaya” yang sebenarnya adalah mereka yang membutuhkan paling sedikit. Mereka sudah cukup puas karena telah menemukan kekayaan berlimpah di dalam diri mereka sendiri. Mereka benar-benar sadar bahwa permata yang asli terdapat di dalam jiwa kita sendiri.
Semua kekayaan yang kita butuhkan untuk hidup bahagia sudah tersedia di dalam diri kita. Kalaupun kita masih membutuhkan hal-hal di luar itu, jumlahnya tidak banyak. Kalau Anda memiliki sandang, pangan, dan papan saja, itu sudah cukup! Bukannya saya hendak menghibur Anda, apalagi diri saya sendiri. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa yang Anda miliki itu sudah cukup. Sangat cukup untuk hidup bahagia.
Ini bukan berarti kita tidak boleh mengumpulkan harta. Silakan teruskan usaha dan bisnis Anda. Mengumpulkan harta untuk dapat berbagi dengan orang lain adalah tindakan mulia. Tapi, jangan pernah lupa akan kekayaan yang tidak ternilai dalam jiwa Anda sendiri. Jarang ada orang yang kaya secara fisik dan masih memelihara ketentraman batin.
Biasanya kesibukan dengan dunia luar membuat kita lupa pada dunia dalam. Banyak orang kaya yang sebenarnya sangat menderita. Orang-orang ini sering berpura-pura bahagia di depan kamera televisi. Padahal, mereka selalu resah dan dibayangi ketakutan sepanjang hidupnya.
Kekayaan fisik sering membuat kita terputus dari sumber kebahagiaan yang sejati. Kita kehilangan akses dengan jiwa kita beserta kekayaan yang terpendam di dalamnya. Padahal, kekayaan ini tidak terbatas dan dapat Anda akses kapanpun Anda mau. Di dalam jiwa inilah bersemayam sumber segala kebahagiaan. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
***
Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!

Sedekah : Berikan, dan Lupakan !

Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. ”Istri saya sakit,” terdengar suara minta pertolongan. ”Dia sangat membutuhkan dokter segera.
” Si dokter menjawab, ”Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil saya sedang masuk bengkel.” Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. ”Apa?!” katanya dengan marah. ”Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?”
Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain, sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa.
Di dunia ini tak ada yang gratis. Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep ”memberi sebelum meminta” yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal ”memberi sebelum meminta” adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain.
Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan takut miskin. Inilah orang-orang yang ”miskin” dalam arti yang sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan hilang. Ia pasti kembali kepada Anda.
Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung dari orang yang ditolongnya. Ini suatu kesalahan. Dengan melakukan hal itu, Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak bernilai. Anda mempraktikkan manajemen ”Ada Udang Di Balik Batu.” Anda tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan.
Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan harta saja, Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu percaya bahwa apapun yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada Anda. Ini merupakan suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati.
Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang. Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang ini pasti dibenci dimana pun ia berada.
Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.
Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak terlantar dan orang-orang miskin? Ini pun sebenarnya adalah tindakan ”mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.” Anda mungkin tak setuju dan mengatakan, ”Bukankah saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela.
” Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi apakah Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa? Jangan salah, Anda tetap akan mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal ini.
Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri.
Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang, menang, dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan kita dalam jangka panjang. Inilah hukum Menang-Menang (win-win) yang berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.
***
Oleh: Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader!

Keutamaan Menutup Aib Orang lain

Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq bintu Husein Al Atsariyyah
Saudariku Muslimah,
Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu ibu ataupun remaja putri, bergunjing membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah perkara yang besar. Bahkan dimata mereka terbilang remeh, ringan dan begitu gampang meluncur dari lisan. Seakan akan obrolan tidak asyik bila tidak membicarakan kekurangan orang lain . ” Si Fulanah begini dan begitu….”. ” Si “Alanah orang nya suka ini dan itu…”
Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, ” Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada tampak.”
Perbuatan seperti ini selain tidak pantas / tidak baik menurut perasaan dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan merahasiakan aib orang lain.
Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh orang lain. Seorang ulama salaf berkata , ” aku mendapati orang orang yang tidak memiliki cacat / cela, lalu mereka membicarakan aib manusia, maka manusia pun menceritakan aib aib mereka. Aku dapati pula orang orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.” 1
Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua :
Petama : Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti itu tergelincir dalam kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti menyebarkan kejelekan di kalangan orang orang yang beriman. Alloh SubhanaHu wa Ta’ala berfirman :
” Sesungguhnya orang orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji 2 dikalangan beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (An Nur : 19)
Kedua : seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang terangan, tanpa malu malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati hati dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup tutupi kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan, melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti perbuatannya. 3
Saudariku Muslimah….
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam yang berbunyi : ” Siapa yang melepaskan dari seseorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Alloh akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat . Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Alloh akan menutup aibnya didunia dan kelak di akhirat. Dan Alloh senantiasa menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya….(HR. Muslim no. 2699)
Bila Demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya ditengah manusia ia dikenal sebagai orang yang baik baik dan terhormat. Siapa yang menutup aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.
Namun bila disana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa apa bahkan wajib menyampaikan perbuatan jelek / aib / cela yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan kepada ayahnya. Jika ia seorang guru disebuah sekolah maka disampaikan kepada mudirnya (kepala sekolah). Demikian seterusnya. 4
Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula, orang yang suka mencari cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan dibicarakan di hadapan manusia, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada didalam rumahnya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Aslami radhiyallohu ‘anhu dari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam :
” Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk kedalam hatinya 5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari cari / mengintai aurot 6 mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot kaum muslimin, Alloh akan mencari cari aurotnya. Dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya didalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh dalam Shahih Abi Dawud : ” Hasan shahih.”)
Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits yang sama, ia berkata, ” suatu hari Rasululloh Shollallohu “alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :
” Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama muslim, Alloh akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya (HR. At Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam Ash Shahibul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, hadits no. 725. I/581)
Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdulloh bin Umar radhiyallohu ‘anHu memandang Ka’bah, ia berkata :
” Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Alloh darimu. 7
Karena itu saudariku…. Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutupi. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akherat. Siapa yang Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tutup celanya didunianya, dihari akhir nanti Alloh SubhanaHu wa Ta’ala pun akan menutup celanya, sebagaimana sabda nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
” Tidaklah Alloh menutup aib seseorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Alloh juga akan menutup aibnya. ” 8 (HR. Muslim no. 6537)
Wallohu ta’ala a’lam bish showab
***
1. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/291)
2. Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar benar terjatuh dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.
3. Jami’ul Ulum Wal Hikam (2/293), Syarhul Arba’in Ibnu daqiqil Ied (hal 120), Qowa’id wa Fawa’id minal Arba’in An Nawawiyyah (hal 312)
4. Syarhul Arba’in An Nawawiyyah, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin (hal 390 – 391)
5. Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap didalam hatinya.
6. Yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib / cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia (tuhfatul Ahwadzi) 7. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2032
8. Al Qodhi ‘Iyadh rahimahulloh berkata : ” tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Alloh SubhanaHu wa Ta’ala akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua Alloh SubhanaHu wa Ta’ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” Namun kata Al Qodhi, sisi yang pertama lebih nampak karena adanya hadits lain.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. 16/360) Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdulloh bin ‘Umar radhiyallohu ‘anhu, ia berkata.”
Aku pernah mendengar Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda : ” Sesungguhnya (dihari penghisaban nanti) Alloh mendekatkan seorang mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang orang yang hadir di mahsyar), Alloh berfirman : ” Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan ? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan ? Si mukmin menjawab : “Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu dosa dosa yang pernah hamba lakukan).” Hingga ketika si mukmin itu telah mengakui dosa dosanya dan ia memandang dirinya binasa karena dosa dosa tersebut, Alloh memberi kabar gembira padanya: ” Ketika didunia Aku menutupi dosa dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa dosamu itu. ” Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan kebaikannya…” (HR. Al Bukhori dan Muslim)
Dari : Majalah Asy Syariah Vol III / No. 30/1428 H / 2007
Wassalamu’alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu

Cara Menghidupkan Qalbu


Oleh : KH Abdullah Gymnastiar
Kalau ada satu keberuntungan bagi manusia dibandinglkan dengan hewan, maka itu adalah bahwa manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah). Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan -yang terutama selkali-Qalbu. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.
Orang-orang yang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenal diri dan Tuhannya.
Karenanya, siapa pun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan Qalbunya, dia akan jahil, akan bodoh, baik dalam mengenali dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam mengenal Allah Azza wa Jalla, Dzat yang telah menyernpurnakan kejadiannya dan pula mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa dia lakukan terhadap dirinya sendiri.
Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah marnpu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, apalagi merasakan indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastilkan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka.
Akibatnya, semua kaIkulasi perbuatannya, tidak bisa tidak hanya diukur oleh asesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang sernata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat jabatan, dan kedudukannya ataupun banyak hartanya. Demilkian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Ada pun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, dia tidak akan memperdulikan dari mana datangnya dan ke mana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiada.
Sebagian besar orang ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali Qalbunya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sabar, apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, Qalbu itu -berbeda dengan dunia- tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita hendaknya sadar bahwa hati inilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini.
Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apa pun. Yang ada malah berat melangkah, sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, sernua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.
Datang saatnya melahirkan, apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan. Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang di ujung maut. Ketika jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallah, sang ibu malah tersenyurn penuh bahagia.
Sang bayi yang masih merah itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal, tangisnya di tengah malam buta membuat sang ibu terkurangkan jatah istirahatnya. Siang malam dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan sebentar-sebentar belepotan eek bayi. Cucian pun tambah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si jantung hati. Akan tetapi, masya Allah, semua beban ‘derita’ itu toh tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.
Ketika tiba saatnya si buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya. Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu itu terjatuh atau terinjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak kurang-kurang menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua, sungguh menjadi beban batin yang tak ringan.
Pendek kata, ketika kecil menjadi beban, sudah besar pun tak kurang-kurang menyusahkan. Begitu panjangnya rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah berbuat durhaka, menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba saatnya mereka tua renta.
Mengapa orang tua bisa demikian tahan untuk terus-menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena, keduanya mempunyai Qalbu yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari sang anak, namun Qalbu yang memiliki kasih sayang inilah yang membuatnya tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban.
Oleh karena itu, beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak. Akan tetapi, yang harus selalu kita jaga dan rawat adalah kekayaan batin kita berupa Qalbu ini. Qalbu yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya Qalbu menjadi redup karena tidak bisa tidak akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin karena senantiasa merasa, terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.
Allah Mahatahu segala lintasan hati. Dia menciptakan dunia beserta segala isinya ini dari unsur tanah dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita tidaklah cukup dengan berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang ternyata sumbernya dari tanah pula.
Bila perut terasa lapar, maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bisa ditelusuri ternyata unsur-unsurnya bersumber dari tanah. Demikian pula bila suatu ketika tubuh kita menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala keperluan tubuh kita mencarikan jawabannya dari tanah. Akan tetapi, kalbu ini ternyata fidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga. ia hanya akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. Waa bi dzikrillaahi tathmaInnul quluub.”[Q.S. Ar-Rad (13): 28]. Camkan, hatimu hanya akan tenteram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah.
Kita akan mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik kita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk kalbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur dunia, tetapi kalbu atau Qalbu kita tetap tertambat kepada Dzat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh kita sibuk dengan urusan dunia, tetapi hati kita harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah sebenamya yang paling harus kita lakukan.
Sekali kita salah dalam mengelola hati -tubuh dan hati sama- sama sibuk dengan urusan dunia -kita. pun akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut telegal, dan seterusnya. Ini semua. diakibatkan sibuknya seluruh jasmani dan ruhani kita dengan urusan dunia semata.


Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya Qalbu kita. Kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini. Wallaahu a’lam.

Keserakahan Manusia

Keserakahan menjadi sejarah tertua umat manusia. Sejak zaman nabi Adam sampai nanti hari kiamat. Keserakahan adalah menifestasi dari ego yang terlalu besar, sehingga tidak mempedulikan orang lain. Hasilnya, adalah masalah.
Ketika nabi Adam dan ibu Hawa masih digambarkan berada di surga, mereka digelincirkan oleh setan dengan senjata keserakahan. Rayuan setan baru membuahkan hasil ketika setan mengiming-imingi Adam dan Hawa dengan kehidupan kekal abadi. Ya, mereka bakal bisa hidup kekal kalau memakan buah Khuldi…
Padahal itu adalah ‘buah larangan’. Dilarang oleh Allah. Akan tetapi karena iming-iming memperoleh kehidupan kekal abadi, Adam dan Hawa pun ‘nekat’ melanggar perintah itu. Maka terbukalah aurat mereka berdua. Mereka, kemudian menutupinya dengan daun-daun surga. Allah menggolongkan mereka sebagai orang-orang yang mendurhakai perintah Allah. Dan tersesatlah mereka karenanya. Menuai masalah.
QS. Al Baqarah (2): 35
Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
QS. Thaahaa (20): 115
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
QS. Thaahaa (20): 120-121
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?”
Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.
Untungnya, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengampuni dan Maha Menyayangi. Allah mengampuni kesalahan itu. Dan kemudian memasukkan mereka ke dalam golongan hamba-hambaNya yang bertaubat dan golongan hamba-hamba yang saleh.
QS. Al A’raaf (7): 23
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.
Coba cermati, betapa dahsyatnya kekuatan keserakahan yang ada di dalam diri manusia. Dan ini telah bersemayam di dalam jiwa kita sejak awal. Maka, kalau kita tidak waspada, setan akan dengan mudah menggelincirkan kita sebagaimana telah menggelincirkan Adam dan Hawa.
Kisah keserakahan ini terulang kembali pada anak keturunan Adam. Pada generasi kedua manusia, yaitu antara Qabil dan Habil. Keduanya adalah anak-anak Adam & Hawa. Qabil membunuh saudaranya, Habil, karena iri dan serakah terhadap apa yang dianugerahkan Allah kepada Habil. Ia tak bisa melawan nafsu serakahnya, maka ia pun tergelincir oleh tipu daya setan.
Cerita ini diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, agar kita bisa mengambil pelajaran darinya. Bahwa keserakahan selalu menghasilkan masalah, penyesalan dan penderitaan.
QS. Al Maa’idah (5): 27
Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.
QS. Al Maa’idah (5): 30
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
Cerita keserakahan yang lain terjadi pada jaman nabi Musa, yaitu Qarun. Ia adalah tokoh legendaris yang sangat kaya raya, sekaligus mewakili watak keserakahan dan kesombongan. Maka Allah membenamkan Qarun beserta harta bendanya ke dalam bumi lewat kejadian gempa.
Permukaan Bumi retak-retak dan merekah, menelan seluruh harta bendanya. Sekaligus dirinya. Sehingga, kini, kalau ada orang menemukan harta benda yang terpendam di dalam tanah, mereka menyebutnya sebagai harta Karun.
QS. Qashash (28): 76
Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.
QS. Qashash (28): 81
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Ddan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).
Dalam sejarah modern, bukan hanya lelaki yang menunjukkan keserakahan, melainkan juga para wanita. Barangkali ini terkait dengan gerakan emansipasi yang semakin menguat di jaman modern.
Meskipun, sejarah keserakahan itu telah terjadi di abad-abad terdahulu di negara-negara tua seperti Mesir, Romawi, India, China dan Eropa dalam bentuk yang berbeda. Mereka biasanya muncul di belakang layar. Di balik kekuasaan raja atau penguasa tertentu yang telah bertekuk lutut kepadanya…
***
Dari Sahabat

Contoh kisah Keajaiban Shalat Hajat

sumber : 
Mereka yang mendapatkan keajaiban Shalat Hajat
A. Menghidupkan Keledai yang Mati
Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)
B. Tercapainya Seluruh Hajat
Di dalam kitab Hasyiyatu Ibnu ‘Aabidiin, disebutkan bahwa di dalam shalat hajat, pada rakaat pertama dibaca surah Al-Fatihah dan ayat Kursi tiga kali kemudian pada tiga rakaat sisanya dibaca surah Al-Fatihan dan Al-Ikhlash, Al-Falak, dan An-Nas satu kali. Maka itu sebanding dengan Lailatul Qadr . Guru-gurunya melaksanakan shalat ini, dan tercapai seluruh hajatnya.
C. Dikabulkan Permintaannya Oleh Khalifah Utsman bin Afan
Dalam kitab Mu’jamu ash-Shoghir wal Kabiir, Imam Thabrani menceritakan:
Ada seorang laki-laki memiliki kebutuhan (hajat), kemudian ia memintanya kepada Amirulmukminin Utsman bin Afan, tetapi Utsam bin Afan tidak memberikan apa yang dimintanya. Kemudian ia bertemu seseorang, yaitu Utsman bin Hunaif. Lalu ia mengadukan permasalannya kepadanya. Akhirnya, Utsman bin Hunaif menyuruhnya untuk melaksanakan shalat hajat, sebagaimana yang telah diajarkan –tata caranya– dalam hadits. Kemudian, ia pun mengerjakannya. Setelah itu, ia pun datang kembali menemui Utsam bin Afan. Tidak disangka, Utsam bin Afan memuliakannya dan mengabulkan permintaan laki-laki tersebut. Dengan kejadian itu, ia pun menemui Utman bin Hunaif (yang telah mengajarkannya shalat hajat) dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
D. Ditolong Oleh Gubernur Thulun –Mesir–
Abu Al-Hasan As-Shaffar Al-Faqih berkata dan menceritakan,
Suatu ketika, kami bersama Al-Hasan bin Sufyan An-Naswi. Banyak orang-orang terhormat yang mengunjunginya dari berbagai negeri yang jauh untuk mengikuti majelis taklimnya, guna menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits.
Suatu hari, ia pergi menuju majelisnya, tempat ia menyampaikan riwayat-riwayat hadis, lalu ia berkata, “Dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan kepada kalian sebelum kita memulai pelajaran. Kami memaklumi bahwa kalian adalah sekelompok orang yang diberikan banyak kenikmatan dan termasuk orang-orang yang terpandang. Kalian tinggalkan negeri kalian, berpisah dari kampung halaman dan teman-teman, hanya demi menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits. Kalian tidak menyadari bahwa kalian telah menempuh semua kesulitan ini demi ilmu, atau telah menanggung apa yang telah kalian tanggung, yaitu berupa kesusahan dan kelelahan yang menjadi salah satu konsekuensinya. Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepada kalian sebagian kesulitan yang aku alami di dalam menuntut ilmu, serta bagaimana Allah SWT memberikan jalan keluar untukku dan para sahabatku –dengan keberkahan ilmu dan kemurnian aqidah– dari segala kesempitan dan kesulitan. Ketahuilah, sejak muda aku telah meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits.
Takdir membawaku sampai ke Maroko, kemudian menuju Mesir, bersama tujuh orang sahabatku sesama penuntut ilmu dan pendengar hadits. Kami lalu berguru kepada seorang guru, ulama yang paling menonjol pada waktu itu. Paling banyak meriwayatkan hadits, paling mengetahui sanad-sanadnya, dan paling otentik periwayatan hadisnya. Ia menjelaskan hadis setiap hari sedikit demi sedikit, sehingga memakan waktu yang cukup lama. Akibatnya, kami menjadi kehabisan bekal. Kondisinya sampai memaksa kami untuk menjual barang-barang yang kami bawa, berupa baju dan celana. Akhirnya, tidak ada lagi milik kami yang tersisa untuk memperoleh biaya makan satu hari pun.
Tiga hari tiga malam kami lalui tanpa dapat mencicipi sesuatu apa pun. Sampai pada suatu pagi di hari keempat, tak satu pun di antara kami yang dapat bergerak karena kelaparan. Kondisinya memaksa kami harus menahan rasa malu dan mengorbankan muka kami untuk meminta-minta, padahal diri kami menolak dan hati kami merasa keberatan.
Setiap orang dari kami menolak melakukan hal itu, namun situasi dan kondisinya benar-benar memaksa untuk meminta-minta. Akhirnya, semuanya sepakat untuk menuliskan nama-nama kami di atas sebuah kain dan meletakkannya di atas air, barangsiapa yang namanya muncul ke permukaan, maka ia yang harus pergi meminta dan mencari makanan untuk dirinya serta sahabat-sahabatnya.
Kain yang tertulis dengan namaku kemudian muncul ke permukaan. Aku bingung dan terkejut, dalam hatiku menolak untuk meminta-minta dan menanggung hina. Lalu, aku bergegas pergi ke satu sudut masjid untuk melakukan shalat dua rakaat dalam waktu cukup lama. Berdoa kepada Allah SWT dengan nama-nama-Nya yang Mahaagung dan kalimat-kalimat-Nya yang Mahamulia, agar menghilangkan kesusahan ini dan memberikan jalan keluarnya.
Belum selesai aku melakukan shalat, seorang pemuda tampan tiba-tiba masuk ke dalam masjid dengan pakaian bersih dan bau yang wangi, diikuti oleh seorang pengawal yang memegang sebuah sapu tangan.
Ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang bernama Al-Hasan bin Sufyan?”
Aku mengangkat kepalaku dari sujudku, lalu menjawab, “Aku Al-Hasan bin Sufyan, apa yang Anda inginkan?”
Ia menjawab, “Sesungguhnya sahabatku, Gubernur Ibnu Thulun menyampaikan salam hormat dan permohonan maafnya atas kelalaiannya di dalam memberikan perhatian mengenai kondisi kalian, juga atas kelalaian yang terjadi di dalam memenuhi hak-hak kalian. Ia mengirimkan sejumlah bekal untuk hari ini. Sedangkan besok, ia sendiri yang akan mengunjungi kalian untuk meminta maaf secara langsung.”
Pemuda tersebut memberikan di tanganku masing-masing sebuah pundi berisi uang seratus dinar. Aku heran dan kebingungan.
Maka, aku berkata kepada pemuda tersebut, “Ada kisah apakah dibalik ini semua?”
Ia berkata, “Aku adalah salah seorang pelayan khusus Gubernur Ibnu Thulun.
Pagi tadi, aku menemuinya bersama sejumlah sahabat yang lain, lalu gubernur mengatakan kepadaku, “Hari ini aku ingin menyendiri, maka pulanglah kalian ke rumah masing-masing!”
Aku pun pulang bersama yang lainnya. Sesampainya di rumah, belum sempat aku duduk, seorang utusan gubernur mendatangiku dengan tergesa-gesa, memintaku untuk kembali. Aku segera memenuhi panggilannya dan mendapatkan gubernur sedang berada sendirian di rumahnya. Ia meletakkan tangan kanannya di atas pinggangnya, menahan rasa sakit yang teramat sangat di dalam perutnya.
Ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengenal Al-Hasan bin Sufyan dan sahabat-sahabatnya?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Ia berkata lagi, “Pergilah ke sektor fulan dan masjid fulan, bawalah pundi-pundi ini dan serahkan kepadanya dan para sahabatnya. Sudah tiga hari mereka kelaparan dengan kondisi yang mengenaskan. Sampaikan permintaan maafku, dan katakan bahwa besok pagi aku akan mengunjungi mereka untuk meminta maaf secara langsung.”
Pemuda itu berkata, “Aku menanyakan tentang sebab yang membuatnya berbuat demikian, maka ia berkata, ‘Ketika aku masuk ke dalam rumah ini sendiri untuk beristirahat sesaat, aku tertidur dan bermimpi melihat seorang penunggang kuda sedang berlari di angkasa dengan begitu stabilnya –seperti layaknya berlari di atas hamparan bumi– sambil memegang sebilah tombak. Aku melihatnya sambil tercengang hingga ia turun di depan pintu rumah ini, lalu meletakkan tombaknya di atas pinggangku, dan berkata, ‘Bangun, dan temuilah Al-Hasan bin Sufyan dan para sahabatnya.’ Bangun, dan temuilah mereka, sesungguhnya mereka kelaparan sejak tiga hari yang lalu di masjid fulan!’
Aku bertanya, ‘Siapakah engkau?” Ia menjawab, ‘Aku Ridhwan, penjaga pintu surga.’ Semenjak ia meletakkan ujung tombaknya di pinggangku, aku merasakan sakit yang teramat sangat, membuatku tidak dapat bergerak. Maka, segeralah engkau sampaikan uang ini kepada mereka, agar rasa sakit ini menghilang dariku.”
Al-Hasan berkata, “Kami tercengang mendengar kisah tersebut, bersyukur kepada Allah SWT dan dapat memperbaiki kembali kondisi kami. Namun, diri kami merasa tidak nyaman lagi untuk menetap di tempat itu. Agar kami tidak dikunjungi oleh gubernur dan rahasia kami diketahui oleh orang lain, sehingga menyembabkan melambungnya reputasi dan kedudukan kami, dan semua itu akan menimbulkan sifat riya’. Maka, malam itu juga kami meninggalkan Mesir. Dan, ternyata setiap orang dari kami menjadi seorang tokoh ulama dan terpandang di zamannya.
Keesokan paginya, Gubernur Ibnu Thulun datang ke tempat itu untuk mengunjungi kami, lalu dikabarkan kepadanya mengenai kepergian kami. Kemudian, ia memerintahkan untuk membeli pertokoan/pasar seluruhya dan mewakafkannya untuk kepentingan masjid dan para perantau, orang-orang penting, dan para penuntut ilmu sebagai bekal mereka, agar kebutuhan mereka tidak lagi terabaikan dan tidak mengalami seperti yang kami alami. Semua itu disebabkan oleh kekuatan agama, kebersihan aqidah dan Allah SWT Maha Pemberi Taufiq.”
***


Dari Sahabat

Jenis Tingkatan Manusia Dalam Shalat


Tingkatan manusia ketika shalat berbeda-beda. Ada lima tingkatan yang perlu Anda perhatikan sebagai tolok ukur, di tingkat manakah Anda berada.
Dalam pengantar buku Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa memahami dan merasakan nilai tingkatan-tingkatan ini kecuali orang-orang yang bergerak menaiki tingkatan itu. Tahukah Anda maksud saya?
Tingkatan Pertama
Di sinilah letak orang-orang yang tidak menjaga waktu shalat. Ia tidak menjaga wudhu, tidak juga rukun-rukun shalat yang zhahir serta kekhusyukan. Orang semacam ini akan mendapat hukuman atas shalatnya sebagaimana disepakati oleh semua ulama.
Tingkat Kedua
Disini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, namun ia melalaikan kekhusyukan. Orang seperti ini akan dihisab shalatnya dengan keras.
Kebanyakan orang berada dalam tingkatan ini. Iya, kan?
Saya lihat Anda mulai berpikir. Ini pertanda baik, sebab Anda mulai perhatikan pada diri sendiri.
Tingkatan Ketiga
Di tingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, dan juga rukun-rukun shalat yang zhahir, Ia tampak berjuang gigih melawan setan. Di awal-awal tampak ia bisa khusyuk, tapi kemudian setan berhasil mencurti perhatiannya. Ia kembali melawan, dan demikian seterusnya silih berganti. Orang seperti ini akan tertutup kekurangannnya.
Ia berjuang gigih dalam shalatnya. Tentu ia akan mendapat dua pahala, pahala shalat di bagian mana ia berhasil khusyuk dan pahala perjuangan melawan setan.
Tingkatan semacam ini sering terjadi. Sebab seseorang akan sering mengalami perubahan keadaan, dan setan pun terus berusaha untuk mendapatkan kesempatan menggoda.
Tingkatan Keempat
Ditingkat ini terletak orang-orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudhu, menjaga rukun-rukun shalat, dan melaksanakan shalat dengan khusyuk. Ini merupakan tingkatan yang sangat tinggi, sebab ia menang melawan setan setelah perjuangan yang amat gigih. Orang seperti ini akan mendapat pahala penuh.
Anda tampak mengatakan, “Kalau begitu inilah tingkatan yang terakhir. Maka, yang tepat adalah empat tingkatan dan bukannya lima.” Saudaraku, jangan terburu-buru. Simaklah sekarang tingkatan berikutnya:
Tingkatan Kelima
Tingkatan ini adalah tempat bagi orang yang menjaga penuh waktu shalat, wudhu, rukun-rukun, dan kekhusyukan. Orang ini juga menanggalkan hati dan menyerahkannya sepenuh jiwa kepada Allah SWT. Orang ini tidak lagi berada didunia. Ia ada bersama Allah. Tidak lagi terkait dengan ikatan-ikatan dunia. Ia tidak lagi melihat atau mendengar. Inilah maksud ucapan Rasulullah SAW, “Pucuk kebahagiaanku terletak di dalam shalat.” Orang semacam ini adalah orang istimewa yang dekat dengan Rabbnya.
Sebelumnya Anda telah mengira tidak ada lagi tingkatan setelah tingkatan keempat.
Sungguh, kebaikan orang-orangh shalih masih merupakan kejelekan bagi orang-orang istimewa. Alangkah kasihan orang yang tidak mampu merasakan kemanisan ini.!
Saudaraku tercinta, sekarang jawab pertanyaan berikut: “Di tingkat mana Anda berada?”
Berdoalah kepada Allah, agar Ia menjadikan Anda golongan orang-orang istimewa.
***


die *Ibadah Sepenuh Hati* Amru Khalid